Rumah

Rumah bagi saya bukan sebatas tempat tinggal, tempat berlindung dari panas dan hujan, ataupun tempat berkumpul dengan anggota keluarga. Bagi saya rumah itu ketika saya bebas menjadi diri saya sendiri, bersama dengan orang-orang yang begitu mengenal diri saya. Mereka mengetahui sepenuhnya kalau saya mempunyai banyak tindakan alfa tapi mereka sedetikpun tak pernah berhenti menyayangi dan mendoakan kebaikan untuk saya dengan tulus. I think I have many houses rightnow. 😆😆😆

Iklan

Teruntuk Kalian, Sahabatku hingga Kapanpun

DSC03622Hai para pengirim surat cintaaa…
Surat cinta kalian masih tersimpan rapih di lemari kamarku. Begitupun ingatan tentang kalian, kusimpan rapih serapih-rapihnya dalam doa, hati dan ingatanku. Membicarakan kalian tak akan ada habisnya, begitupun saat bersama kalian bumi terasa berputar lebih cepat. Ahh terima kasih banyak telah bersedia membersamaiku selama di Jogja ….

I’m so blessed. Alhamdulillah….

Belajar Legowo dengan Kenyataan Hidup

legowo

Kata legowo dalam Bahasa Jawa berarti menerima dengan lapang dada. Satu kata yang sering kali kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Mudah mengucapkannya namun tak semudah itu menerapkannya. Dalam hidup ini Tuhan telah begitu adil menuliskan jalan hidup hambanya. Setiap hamba tak mungkin selamanya bahagia, ada kalanya Tuhan mempergilirkan kita dengan kejadian yang menguji kesabaran kita, kesyukuran kita. Tujuannya apa? Tujuannya agar kita menjadi hamba yang senantiasa waspada, tak mudah lena dengan keadaan yang membahagiakan namun juga tak terpaku dengan keadaan yang membuat hati bersedih. Semua kejadian dalam hidup kita saling bergilir tak ada yang abadi. Maka disaat sedang diuji sikap legowolah yang harus kita terapkan. Menerima setiap takdir Allah. Semoga masing-masing dari kita senantiasa diberikan kekuatan untuk bersikap legowo. Karna rencanaNya selalu lebih baik dari rencana makhluk. Dan percayalah setiap takdir hidup yang kita jalani itu mempunyai banyak kebaikan untuk kita.

Bandung 4 Desember 2017

Catatan Akhir Tahun

Ada begitu banyak hal yang telah kulalui. Hal-hal ayang bahkan tak terduga sebelumnya. Hal yang bahkan tak kusangka aku mampu melaluinya, tapi Allah memampukanku. Allah yang Maha Memampukan hambaNya yang lemah ini. Maka kepada siapa lagi aku berharap dan meminta pertolongan selain padaMu ya Robb. Mudahkanlah, Mampukanlah aku melalui semua ini. Berkahilah tiap langkah dan perbuatanku.

Aamiin aamiin ya robbal’alamin.

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.
Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Pemilik hari pembalasan.
Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami meminta pertolongan.

Tunjukilah kami jalan yang lurus.
(Yaitu) jalan orang – orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka , bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

Seperempat Abad

Semoga makin bertambah usia makin belajar untuk bersyukur.

Thank you Allah for always loving me.

untuk seperempat abad yang telah Engkau berikan kepadaku

untuk mereka yang senantiasa mencintaiku, menyayangiku tanpa kata

Terima kasih untuk setiap kejadian yang Engkau takdirkan, untuk kulalui

Mampukanlah aku untuk senantiasa bersyukur Ya Allah

Memaknai setiap titipan yang Engkau beri kepadaku

Beri aku kesempatan aku untuk mengukir senyum mereka aamiin

Bandung, Agustus 2017

 

In frame: Al Furqan Mosque UPI Bandung, 2017

 

Keabsurdan & Rindu: Sebuah Konstelasi

Entah apa yang sedang terpikirkan

Ada begitu banyak hal semestinya kukerjakan saat ini

Sayangnya pikiran kadang tidak pada tempatnya

Begitu absurd

Rasanya otak sudah melaju jauh, tapi

Apadaya langkahku masih di sini

Absurd

Entahlah…..

Mulai meragu dengan jalan pikiranku sendiri

Tetiba rindu suara-suara itu,

Suara yang dimiliki sosok-sosok yang selalu mampu menyemangatiku

Ibu, aku kangen…

Bapak, aku kangen….

Yah mungkin di balik keabsurdan pikranku, tindakanku, hati sebenarnya aku merindukan mereka…..

Mungkin jawabannya mereka, seperti beberapa tahun lalu

Di titik yang pernah kulalui juga

Mereka jawabannya….

Tentang Kita dan Jarak Bandung – Kulon Progo

zz.png

Sumber Gambar: Googlemap (2016, hlm.-)

Yang kutahu Allah tak akan memberikan sesuatu di luar batas kemampuan hambaNya.

Begitupun tentang keadaan kita sekarang, akupun percaya ini hanya sekedar jarak.
Aku percaya kita mampu melalui semua tahap ini, kita mampu melaluinya bersama…

Dan jarak ini mengajarkan begitu banyak hal pada kita
Jarak ini begitu menguatkan
Jarak ini mengajarkan kita untuk terus belajar
Saling mengerti,
Saling memahami,
Saling percaya,
Meski kadang akupun mengeluh tentang jarak ini,

“Siapapun akan selalu ingin berada disisi pasangannya, begitupun denganku.”
Im still normal like others hahaha😂😂😂😂

Dan ketika Allah menakdirkan keadaan kita seperti ini, seketika tersadar “apalah arti jarak jika hati kita telah bersatu, bukankah tiada guna jika raganya dekat namun hatinya jauh”

Semoga Allah selalu menjaga kita, keluarga kita, orang-orang yang mencintai dan menyayangi kita dengan penjagaanNya. Karna Dia adalah sebaik baik penjaga, Yang Maha Pelindung, Maha Pengasih, Maha Penyayang pada semua hambanya.
Percayaa kita mampu melalui semua ini, percaya, semangattt 🙂

#longdistancemarriedcouple #miss #distance #kulonprogo #bandung #needyou #efekcarutmarutpikirandanhati #butuhaqua eh salah #butuhkamu 😂😂😂

 

Berdua Saja (oleh: Kurniawan Gunadi)

Hari ini aku menghabiskan waktu seharian dengan ibu. Mulai dari bangun pagi hingga malam ini. Sepagi tadi, ibu memasak makanan kesukaanku. Aku turut membantu, mulai dari menyiapkan bahan sampai mencuci piring.

Meski beberapa kali ibu menyuruhku untuk membiarkannya. Aku tidak ingin melepaskan begitu saja waktu-waktu yang berharga ini. Sebelum minggu depan pergi jauh dari rumah ini, mungkin hanya akan kembali sesekali. Aku sudah mulai mengenal perasaan rindu padahal belum meninggalkan rumah ini sama sekali.

Aku rindu ibu membangunkanku setiap pagi. Aku rindu suara musik yang terdengar berdentum keras saat bapak di ruang kerjanya. Aku rindu udara pagi yang dingin, rindu bau selimut dan boneka. Aku rindu suara gerbang yang dibuka. Rindu suara dedaunan di samping kamar yang menggesek jendela.

Kami menghabiskan waktu bersama-berdua seharian ini. Bercerita tentang banyak hal, lebih banyak tentang nasihat. Juga pelajaran-pelajaran berharga dari hidup orang tua. Tentang berkeluarga, tentang anak, tentang saudara, tentang bekerja, tentang sekolah, tentang anak, dan begitu banyak pelajaran yang aku miliki hari ini.

Orang tua di manapun selalu ingin anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik dibanding dirinya. Pelajaran itu baru saja disampaikan untuk tujuan itu, agar anak-anaknya tidak mengulang kesalahan-kesalahan serupa dari orang tuanya, juga agar anak-anaknya bisa mengambil kebaikan dan contoh pada tindakan-tindakan yang benar.

Waktu terasa begitu cepat berlalu, sehari dua hari, sebulan dua bulan, setahun dua tahun. Rasanya baru kemarin aku berlarian menjadi anak kecil. Dimanja dan ditimang. Kini waktu berlalu bertahun lamanya, ada hal-hal keniscayaan yang memang sudah takdirnya demikian. Ada waktu yang akan memisahkan anak dan orang tuanya. Sebab sekolah merantau atau berasrama, sebab anaknya pergi bekerja di luar kota, dan sebab pernikahan.

Ku kira, dibalik begitu bersemangatnya ibu terhadap pernikahanku. Aku tidak tahu bagaimana di dalam hatinya, mungkin suatu hari nanti aku akan merasakan hal yang sama.

©kurniawangunadi

Belajar dari Buku Jagat Perempuan

Malam ini di tengah randomnya pikiran dan suasana hati, selarut ini mata belum berhasil terpejam. Yah mungkin ini waktunya membaca kembali koleksi buku lama saya. Buku tentang kutipan kebijaksanaan perempuan. Buku yang menarik menurut saya, karena jika dipahami buku ini mengulas bagaimana kebijaksanaan seorang perempuan (penulis) dalam menjalani lika liku kehidupannya, bahasanya ringkas dan mudah dipahami. Di bagian 14 saya tertarik untuk menyalinnya di sini dengan beberapa penyesuaian, semoga penulis berkenan dan semoga yang membaca dapat mengambil makna yang tersirat dari tulisan ini. Aamiin aamiin ya robbal’alamin.

 

“Banyak kasus perceraian terjadi. Kadang aku mengerti sepenuhnya, walau kadang aku juga tidak habis mengerti, karena aku-pun menjalani perahu yang bernama pernikahan ini. Aku pahami sepenuhnya apa yang mereka rasakan. Pernikahan adalah ikatan dua jiwa yang berbeda, karena memang jiwa tidak ada yang sama, dan karena memang Tuhan telah menjadikannya sedemikian rupa. Maka, perbedaan bukannya untuk disamakan, tapi disatukan, dianggap sebagai sebuah kelebihan bagi masing-masing. Lalu, proses pemahaman ini adalah realisasi dari sebuah proses ujian, di mana iman kita diuji, mampu atau tidak berjalan dalam perahu yang sama, sementara masing-masing jiwa menyimpan harapan dan keinginan yang bisa jadi kadang berbeda. Lalu perjalanan mengajariku bahwa ada satu sisi dari jiwa kita yang harus mengalah dan menahan diri. Masing-masing bertugas menjadi rem bagi keberadaan yang lain, dan di situlah letaknya amar ma’ruf. Dan jika akhirnya terjadi perceraian, sebenarnya adalah sebuah kekalahan di mana kita tidak mampu mempertahankan perahu ini. Seburuk apapun pandangan kita terhadap pasangan, seberat itu pula ujian dan sebanyak itu pula Tuhan menyimpan ganjaran terhadap kita jika kita mau menyikapi dengan kuat….. “

 

“Duhai pernikahan ini memang bukan ikatan main-main, ini perjanjian yang berat, mitsaaqan ghaliizhan, menantang siapa saja untuk menjalaninya dan berpegang teguh di jalan Allah.”

 

Sumber:
Shekinah, Bunga (2009). Jagat Perempuan: 171 Tips Kutipan Kebijaksanaan Seorang Perempuan. Yogyakarta: Vanvijaya Publishing dengan beberapa penyesuaian.

Senin di Bandung

Setahun lebih di sini, tanpa terasa semua berlalu begitu cepat. Ada begitu banyak kejadian, tentang orang-orang yang datang dan silih berganti. Ada pula yang turut menyita waktu dan mengusik rasaku.

Sepenuhnya aku menyadari, ada banyak mimpi di sini, ada banyak cita dan harapan mereka (yang terkasih) untukku.

Maka untuk kesekian kalinya kumohon, wahai hati jangan kau sia-sia-kan waktu hanya untuk memikirkan orang yang tak penting. Biarkan saja mereka berlaku sesuai keinginan mereka, asal kau tetap berada di jalurmu (mengupayakan mimpimu dan harapan mereka yang kau cinta sebaik-baiknya semampumu dan terus berusaha berbuat baik untuk sesama).

Semoga semesta turut mengaminkan, aamiin.

La Haula wa La Quwwata Illa Billah.

Bandung, 22 Agustus 2016.